Food & Beverage

Cloud Kitchen: Model Bisnis FnB yang Cocok Saat Pandemi

Penyebaran virus COVID-19 telah membuat seluruh bisnis terpaksa meminimalisir aktivitas operasional, bahkan beberapa harus tutup secara total. Meskipun kini pemerintah sudah menerapkan kebijakan new normal di beberapa wilayah, melakukan transaksi secara online dan menerapkan sistem delivery dan takeaway masih menjadi pilihan yang paling aman bagi bisnis F&B. Dengan tingginya permintaan pelanggan akan layanan antar makanan ke rumah ini, sistem cloud kitchen yang sebelumnya tidak banyak dikenal menjadi naik daun.

Pernahkah Anda mendengar tentang sistem cloud kitchen? Mari simak Bersama informasi lebih lanjut tentang cloud kitchen di bawah ini!

Apa Itu Cloud Kitchen?

Anda mungkin sudah cukup akrab dengan istilah cloud yang beberapa saat ke belakang mulai menjamur di Indonesia. Secara sederhana, teknologi komputasi cloud ini memungkinkan perusahaan untuk menyimpan dan mengakses seluruh data serta program melalui internet, sehingga perusahaan tidak lagi perlu menggunakan hard drive komputer.

Cloud kitchen sendiri merupakan model bisnis F&B yang hanya menerima pesanan melalui medium virtual, seperti website, aplikasi hp, dan telepon. Ya, dalam sistem ini, tidak ada meja dan kursi bagi pelanggan, tidak ada etalase untuk memamerkan makanan. Satu-satunya ruangan yang diperlukan adalah dapur yang digunakan untuk memproduksi makanan yang akan dijual pada konsumen. Sistem ini sukses jadi solusi ampuh bagi pebisnis untuk tetap mengoperasikan bisnis di tengah pandemi.

Mengapa Cloud Kitchen Cocok Diterapkan saat Pandemik?

Karena tidak memerlukan area servis atau front of house, model bisnis cloud kitchen ini secara penuh menekankan perhatiannya untuk membangun infrastruktur dapur, sistem delivery, serta kebersihan makanan dan kemasan yang berkualitas. Keempat pilar utama bisnis inilah yang menjadi keunggulan bagi cloud kitchen di tengah krisis kesehatan seperti ini.

Dari sisi bisnis, cloud kitchen juga memungkinkan perusahaan untuk menghemat banyak anggaran operasional. Hanya dengan 6 orang karyawan­­— 1 orang head chef, 2 orang junior chef, 2 helper, dan 1 housekeeper­—cloud kitchen sudah bisa beroperasi dengan lancar. Perusahaan juga dapat menyimpan margin keuntungan lebih dan menghemat biaya operasional di saat regresi seperti ini dengan menghilangkan biaya maintenance untuk area servis restoran. Selain efisiensinya, cloud kitchen ini juga unggul akan data pelanggannya. Karena seluruh data penjualan dan data pelanggan tercatat dengan baik dalam sistem penyimpanan cloud, perusahaan dapat menggunakan data tersebut untuk menganalisis dan memprediksi penjualan, serta memahami target pasarnya dengan lebih baik. Dengan sistemnya yang fleksibel, efisien dan berbasis data, bisnis cloud kitchen ini selanjutnyajuga dapat diekspansi lebih cepat dibanding usaha restoran brick and mortar.

Cara Merawat Peralatan Cloud Kitchen

Tanpa adanya equipment dapur yang baik, cloud kitchen tidak akan bisa beroperasi dengan efisien. Bahkan, peralatan dapur yang tidak dirawat dengan baik dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan keracunan makanan. Anda tentunya tidak ingin kedua musibah tersebut menimpa bisnis cloud kitchen Anda. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, lakukanlah pemeliharaan pada bangunan dan peralatan dapur secara rutin dan menyeluruh.

Terdapat dua jenis pemeliharaan, yaitu pemeliharaan preventif dan pemeliharaan reaktif. Tujuan utama dari pemeliharaan preventif ini adalah untuk meningkatkan masa pakai peralatan dengan melakukan maintenance secara rutin. Selain harus dibersihkan peralatan sesuai dengan prosedur yang benar, peralatan juga perlu diperiksa secara rutin, sehingga kerusakan dan malfungsi dapat terdeteksi dan diperbaiki sedini mungkin sebelum peralatan rusak total.

Baca juga: Tips Maintenance Peralatan Restoran

Berbeda dengan pemeliharaan preventif, pemeliharaan reaktif adalah metode pemeliharaan yang hanya memperbaiki atau mengganti peralatan jika sudah benar-benar tidak berfungsi. Pemeliharaan reaktif tampaknya menghemat waktu dan biaya operasional sehari-hari, namun jika dianalisis lebih lanjut sebenarnya pemeliharaan jenis ini cenderung menghabiskan lebih banyak uang pada akhirnya. Selain lebih mahal daripada pemeliharaan rutin, memperbaiki atau mengganti peralatan ketika sudah rusak total juga menghambat operasional dapur—yang selanjutnya malah mengakibatkan kerugian bagi keuangan perusahaan. Karena itu, perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan preventif yang terorganisasi dengan baik sangat dibutuhkan dalam menjalankan cloud kitchen.

Bagaimana caranya?

Buatlah ceklis pemeliharaan masing-masing peralatan dan jadwalkan pemeriksaan secara rutin. Untuk urusan ceklis dan penjadwalan pemeliharaan bisnis F&B, Anda dapat mempercayakannya pada Nimbly. Dengan Nimbly, Anda dapat membuat checklist dengan berbagai tipe pertanyaan, mencantumkan foto dan video kondisi peralatan, menjadwalkan inspeksi rutin secara otomatis, serta mengawasi dan menindaklanjuti kerusakan pada peralatan dengan segera. Dengan adanya fitur-fitur ini, Anda bisa menghindari risiko kerusakan peralatan dan kecelakaan, sehingga tim Anda bisa bekerja secara optimal. Semoga bermanfaat!

Related Articles

General

Alasan Memilih SaaS untuk Manajemen Operasional

“Software seperti ini bisa dibuat secara in-house, mengapa kita harus membayar mahal-mahal untuk hal sepele seperti ini?” “Software mereka tidak m...



General

5 Manfaat Beralih ke Audit Paperless

Dalam menjalankan bisnis, perusahaan tentu selalu mencari cara untuk melakukan efisiensi operasional, merampingkan pengeluaran, dan menghemat waktu. ...



General

Apa itu Operations Analysis? [Infographic]

Operations analytics atau analisis operasional adalah kategori analisis bisnis yang berfokus pada pengukuran operasional bisnis secara real-time. Kem...



whatsapp-icon